-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dokter Terawan Agus Putranto di Pecat IDI Pusat, Kronologi Selengkapnya

Saturday, March 26, 2022 | 10:10 PM WIB Last Updated 2022-03-26T15:12:34Z
iklan
Dokter Terawan Agus Putranto di Pecat IDI Pusat, Kronologi Selengkapnya
Source gambar Sindonews


Dokter Terawan Agus Putranto - comunitynews - Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto Dihentikan dalam keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat.


Keputusan ini sebagai referensi dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI).


Beberapa permasalahan diperhitungkan jadi pemicu keputusan MKEK itu.


Sudah diketahui, bekas Menteri kesehatan sempat dilaksanakan penghentian sementara buntut pro-kontra therapy cuci otak.


Pelanggaran kaidah diperhitungkan jadi pemicu dr Terawan dikeluarkan IDI.


Seperti diambil dari situs instagram Pandemiolog Pandu Riono, dalam video yang tersebar, Ketua Panitia Kongres ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa sampaikan hasil keputusan seperti berikut:


1. Melanjutkan hasil keputusan rapat sidang khusus MKEK yang putuskan penghentian tetap sepekerjaan Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) sebagai anggota IDI.


2. Penghentian itu dikerjakan oleh PB IDI selambatnya 28 hari kerja.


3. Ketentuan ini berlaku semenjak tanggal diputuskan.


"Keputusan final masih juga dalam sidang khusus sidang khusus Kongres," catat Pandu.


Figur Dokter Terawan


Nama dokter Terawan bisa jadi tidak asing dalam telinga kita karena beberapa tahun kemarin sering tangani beberapa pesohor negeri, dimulai dari petinggi, politikus, sampai bintang tv.


Dokter tentara kelahiran Yogyakarta, 5 Agustus 1964, ini sempat jadi fokus perhatian sesudah memperkenalkan therapy cuci otak atau brain wash untuk pasien stroke.


1 . Maka dokter di umur muda


Dokter Terawan lulus dari Fakultas Kedokteran Kampus Gadjah Mada di umur 26 tahun.


Ia selanjutnya meneruskan pengajaran specialist di Departemen Specialist Radiologi Kampus Airlangga Surabaya.



Dokter Terawan selanjutnya ambil program doktor di Kampus Hasanuddin (Unhas) pada 2016.


Judul disertasi Terawan ialah "Dampak Intra Arterial Heparin Flushing Pada Regional Cerebral Blood Flow, MOtor Evokde Potentials, dan Peranan Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Akut" dengan promotor dekan FK Unhas, Prof Irawan Yusuf, PhD.


Terawan mulai jadi dokter tentara pada 1990 dan ditugaskan di beberapa daerah, sampai pada akhirnya memegang sebagai Kepala Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta semenjak 2015.



Terawan sebagai salah satunya dokter kepresidenan.


Ia sempat dipilih Jokowi untuk menolong menjaga mendiang Ani Yudhoyono saat jalani penyembuhan kanker darah di Singapura beberapa lalu.


2. Pro-kontra therapy cuci otak


April tahun 2018, nama Terawan hangat dibicarakan warga. Waktu itu Terawan mengenalkan sistem cuci otak atau brain wash yang dipercaya bisa menyembuhkan stroke.


Waktu itu Terawan akui, therapy-nya memberikan hasil yang bagus ke pasien.


"Ada beberapa pasien yang berasa pulih atau diringankan oleh therapy cuci otak itu," kata Terawan dikutip Wartakotalive.


Di sisi lain, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyebutkan sistem Digital Substraction Angogram (DSA) atau cuci otak untuk penyembuhan stroke belum terbukti secara medis.



Ketua Umum PB IDI Prof dr Ilham Oetama Marsis, SpOG menjelaskan, tiap tehnologi dan sistem penyembuhan perlu lewat tes medis.


"Harus ditunjukkan kembali jika dengan hanya itu apa dapat gantikan therapy konvensional yang ada? Belum pasti, ia harus menunjukkan," kata Marsis ke reporter, Senin (9/4/2018).


Marsis menerangkan, sistem dan tehnik penyembuhan yang diaplikasikan Terawan sudah terbukti secara akademik saat dia mendapat gelar doktor di bagian kedokteran.


Tetapi, sistem itu harus tetap dites secara medis dan ringkas untuk dapat diaplikasikan ke khalayak luas.


3. Dipandang menyalahi kaidah IDI


Pro-kontra therapy digital substraction angogram (DSA) atau cuci otak untuk penyembuhan stroke berbuntut pada pemberhentian sementara Terawan dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).


Ketua MKEK, dr Prijo Pratomo, Sp. Rad, menjelaskan, MKEK tidak mempersoalkan tehnik therapy penyembuhan DSA yang digerakkan Terawan untuk menyembuhkan stroke.


Tetapi yang dipersoalkan ialah kaidah yang dilanggar Dokter Terawan


"Kami tidak mempermasalahkan DSA, tetapi sumpah dokter dan kaidah yang dilanggar," katanya saat dikontak Kompas.com pada Rabu (4/4/2018).


Prijo menyebutkan ada pasal Code Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki) yang dilanggar.



Dari 21 pasal yang yang tertera dalam Kodeki, Terawan sudah meremehkan dua pasal yaitu pasal empat dan enam.


Pada pasal empat tercatat: Seorang dokter harus menghindari diri dari tindakan yang memiliki sifat beri pujian diri.


Terawan tidak mematuhi itu, dan kata Prijo, Terawan memasang iklan diri. Walau sebenarnya, ini ialah kegiatan yang bertolak-belakang dengan pasal empat dan melukai sumpah dokter.


Kekeliruan lain dari Terawan ialah berperangai yang berlawanan dengan pasal enam.


Bunyi pasal enam Kodeki: "Tiap dokter harus selalu waspada dalam umumkan atau mengaplikasikan tiap penemuan tehnik atau penyembuhan baru yang belum dites kebenarannya dan pada beberapa hal yang bisa memunculkan kegelisahan warga".


"Sebenarnya kami tidak mengganggu disertasi yang disodorkan Terawan, apa lagi Prof Irawan sebagai promotor," terang Prijo.


Tetapi, penemuan hasil riset akademis yang hendak diaplikasikan pada pasien harus lewat rangkaian tes sampai pantas sama sesuai standard karier kedokteran.


Tidak berarti yang telah ilmiah secara akademis lalu ilmiah secara dunia klinis.


"Ada rangkaian tes medis melalui multisenter, pada hewan, in vitro, in vivo. Beberapa tahapan semacam itu harus dilakukan," tambah Prijo.


Therapy penyembuhan, kata Prijo, kembali lagi perlu searah dengan sumpah dokter dan kaidah, terhitung dokter dilarang mempromokan diri.


Referensi yang dari beberapa petinggi, selebritis kelas atas, atau pasien bukan evidence base yang memperkuat riset akedemik untuk pantas di dunia klinis.


Ancaman pemberhentian dokter Terawan oleh IDI berjalan sepanjang 12 bulan semenjak 26 Februari 2018 sampai 25 Februari 2019.


4. Menangani pasien stroke semenjak 2005


Dikutip dari situs berita kota, Terawan akui telah mengaplikasikan sistem cuci otak untuk menangani permasalahan stroke semenjak tahun 2005.


"Telah sekitaran 40.000 pasien yang kami bereskan," ucapnya.


Bahkan juga menurut dia, tidak banyak protes dari warga yang dia terima hingga jadikan bukti kehebatan sistem yang diaplikasikannya itu.


Kemudian, dia mendapati sistem baru untuk tangani pasien stroke yang disebutkan dengan therapy çuci otak dan implementasi program Digital Substraction Angiogram (DSA).


5. Cara cuci otak Terawan


Dikutip dari TribuneJateng, dokter Terawan menerangkan sistem 'cuci otak' itu secara singkat sebetulnya ialah masukkan kateter ke pembuluh darah lewat pangkal paha pasien stroke.


Hal itu dilaksanakan untuk menyaksikan apa ada tersumbatnya pembuluh darah di tempat otak.


Penyumbatan itu bisa menyebabkan saluran darah ke otak dapat macet dan bisa mengakibatkan saraf badan tidak dapat bekerja yang baik.


Keadaan berikut yang terjadi pada pasien stroke.


Sumbatan itu lewat sistem DSA selanjutnya dibikin bersih hingga pembuluh darah kembali bersih dan saluran darah juga kembali normal.


Langkah bersihkan sumbatan pembuluh darah juga ada beragam langkah.


Dimulai dari penempatan balon di jaringan otak (transcranial LED) yang diteruskan dengan therapy.


Disamping itu ada pula langkah lain yakni masukkan cairan Heparin yang dapat memberikan dampak pada pembuluh darah.


Cairan itu memunculkan dampak anti pembekuan darah di pembuluh darah.


"Ada beberapa pasien yang berasa pulih atau diringankan oleh therapy cuci otak itu," terang Terawan.


Terawan juga sediakan dua lantai ruang di RSPAD khusus untuk tangani pasien stroke namanya Cerebro Vascular Center (CVV).


Diberitakan tiap hari ada sekitaran 35 pasien yang lakukan perawatan di ruang ini. Ongkosnya juga sekitar di antara Rp 35 juta sampai Rp 100 juta per pasien.

×
Berita Terbaru Update