Mahmoud Darwish Sejarah

Mahmoud Darwish: Penyair Palestina dan Kisah Cinta yang Menggetarkan

comunitynews
5:36 AM
0 Comments
Home
Mahmoud Darwish
Sejarah
Mahmoud Darwish: Penyair Palestina dan Kisah Cinta yang Menggetarkan
Mahmoud Darwish
 Mahmoud Darwish: Penyair Palestina dan Kisah Cinta yang Menggetarkan


Mahmoud Darwish - comunitynews - Kisah Cinta Tragis Mahmoud Darwish dan Rita Mossad. Puisi indah Mahmoud Darwish bukan hanya ekspresi kesedihan politiknya; itu juga merupakan kisah cinta yang tragis. Dalam karya Dalya Cohen-Mor "Mahmoud Darwish; Penyair Palestina dan Kekasih Yahudinya", kita melihat perjalanan cinta Darwish dengan Rita Mossad, kekasih pertamanya yang Yahudi.


Mahmoud Darwish bertemu Tamar Ben-Ami, atau Rita, saat mereka melarikan diri ke Haifa selama perang. Meskipun cinta mereka telah berkembang, hubungan mereka terputus karena perang.


Diusir Sejak Kecil


Masa Muda yang Penuh Penderitaan, Mahmoud Darwish lahir di Al-Birwa pada tahun 1941. Tentara Israel mengusir keluarganya dari desa Galilea, traumakan Darwish. Sebagai "orang asing di tanah kelahirannya sendiri", pengalaman ini memberinya inspirasi untuk menulis puisi.


Perjuangan dan Karya Puitis Pertama


Pada usia 19 tahun, Darwish menerbitkan buku pertamanya, "Burung-Burung Pipit Tanpa Sayap," yang menjadi perkenalannya pertama dengan dunia sastra. Puisi-puisinya menggambarkan penindasan Israel terhadap Palestina dan menceritakan kisah heroik tentang perjuangan orang Palestina.


Perjalanan Politik yang Menakjubkan


Dari Jurnalis hingga Aktivis PLO Darwish memulai kariernya sebagai jurnalis dan penyair, tetapi dia juga melakukan pekerjaan politik yang menantang. Sebelum menjadi bagian dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada tahun 1987, ia bergabung dengan Partai Komunis Israel. Darwish menjadi "suara rakyat Palestina" dengan cepat.


Puisi politik Darwish dianggap sebagai inkarnasi puisi politik dalam tradisi Islam. Sikapnya terhadap orang Yahudi tetap humanis, meskipun dia benar-benar membela Palestina. Dalam wawancara dengan New York Times, ia menyatakan bahwa meskipun tidak setuju dengan kebijakan Israel, ia tidak membenci orang Yahudi.


Warisan dan Penghargaan


Selama hidupnya, Darwish menulis lebih dari tiga puluh antologi puisi dan prosa, yang diterjemahkan ke lebih dari dua puluh dua bahasa. Ada banyak penghargaan untuk karyanya, seperti Lenin Peace Prize dan Lannan Cultural Freedom Prize. Meskipun dia meninggal pada tahun 2008, puisinya dan pandangannya yang kemanusiaan terus hidup.

Blog authors