-->

Notification

×

Iklan

iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mari Mengenang Sejarah Kampung Pecah Kulit Jakarta, Petilasan Yang Sempat Punah

Wednesday, February 16, 2022 | 5:49 AM WIB Last Updated 2022-02-15T22:49:54Z
iklan

 


Dikutip dari laman Media Sosial If Know


comunitynews - Sejarah Jakarta ialah kota dengan riwayat panjang perjuangan dan kekejaman.


Salah satunya pojok kota ini simpan legenda sadis eksekusi mati.


Jaman dulu, eksekusi mati tidak menghiraukan kemanusiaan.


Pada jaman VOC, hukuman mati pernah dilaksanakan dengan menarik badan tersangka keempat arah pelosok mata angin dengan kuda.


Langkah eksekusi mati sadis itu sempat terjadi di Batavia, nama Jakarta di periode kemarin. Waktu itu ialah jaman VOC (Perusahaan Hindia Timur Belanda) era 18.


Eksekusi mati itu membuat badan orang yang dijatuhi hukuman jadi tercerai-berai, kulitnya pecah terburai. Kabarnya, deskripsi menakutkan itu mengilhami nama Kampung Pecah Kulit, Jalan Pangeran Jayakarta, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, sekitaran 1 km dari Stasiun Jakarta Kota.


Kampung Pecah Kulit simpan catatan duka riwayat bangsa. Teritori ini jadi saksi kebun pembunuhan pada beberapa orang yang melawan pada penjajah Belanda, satu diantaranya ada masyarakat kaya turunan Jerman-Siam namanya Pieter Erberveld.


Eksekusi pada Pieter sendiri dilaksanakan dengan benar-benar tidak wajar dan biadab. Tangan dan kaki Pieter diikat tali dengan masing-masing disambungkan ke satu ekor kuda yang menghadap empat pelosok.


Dengan sekali hentak, ke-4 kuda itu melejit dituruti terbelahnya badan Pieter jadi empat sisi.


Kepala Pieter selanjutnya dipotong, ditusuk dari leher tembus ke ubun-ubun, dan ditancapkan di atas tonggak yang dipampang di gerbang tempat tinggalnya.


Kekejaman eksekusi mati itu menemani riwayat salah satunya pojok Jakarta ini.


Semenjak itu tempat lokasi eksekusi itu diberi nama: Pecah Kulit.


Eksekusi Pieter dilaksanakan pada 22 April 1722.


Semenjak waktu itu, beberapa orang jadi takut untuk melawan ke VOC. Di sana, saat teritori itu namanya Jacatraweg yang saat ini Jl Pangeran Jayakarta,pernah berdiri monumen. Di atasnya ada tengkorak tiruan kepala Pieter.


Monumen itu dikatakan sebagai monumen Pieter Erberveld. Monumen ini dibuat oleh Belanda dengan 2 bahasa, yaitu bahasa Belanda dan bahasa Jawa, pada dinding tembok bercat putih. Berada di samping selatan Gereja Portugis di Jacatra Weg di Jalan Jayakarta).


Di atas monumen terpasang sebuah tengkorak yang dibuat dari gibs. Dalam prasastinya tercatat "Sebagai masa lalu dari pembelot Peter Erbervelt, tidak seorang juga sekarang bisa membuat, membuat, menempatkan bata atau menanam pada tempat ini. Batavia, 14 April 1722". (prasasti batu Monumen Erbervelt)


Prasasti batu aslinya bisa disaksikan di Museum Riwayat Jakarta. Pemerintahan Jakarta sempat juga membuat tiruan monumen di lokasi asli (1970) tetapi dipindahkan (1985) ke Taman Prasasti.


Monumen itu dipakai untuk peringatan untuk 'pengkhianatan' Pieter Erberveld.


Ini tulisan di monumen itu jika ditranslate ke Bahasa Indonesia:


Catatan, dari peringatan (yang) memuakkan pada sang usil pada negara yang sudah dijatuhi hukuman: Pieter Erberveld. Dilarang, orang membangun rumah, gedung, atau memasangkan papan kayu, demikian juga berkebun, pada tempat ini, saat ini sampai sepanjang lama waktunya. Usai.


Monumen asli ini pernah dihancurkan oleh Jepang pada periode wargaan tahun 1942-1945.

Batu aslinya sekarang ditaruh dalam tembok halaman belakang Museum Riwayat Jakarta.


Apa cuman Peter yang dilakukan dengan ditarik kuda?

Tidak.


Ada 24 orang yang dilakukan mati oleh VOC dengan semacam itu. Semua dijatuhi hukuman karena lakukan pemberontakan pada Kompeni.


Pieter saat dilakukan berumur 59 tahun. Eksekusi, dilaksanakan dalam suatu lapangan terbuka dekat rumah Pieter.

×
Berita Terbaru Update