Home
Ekonomi
Internasional
terra luna cryptocurrency
Terra Luna Cryptocurrency Versi Terbaru Anjlok 20 Persen Kini di Tinggal Investor

 

Terra Luna Cryptocurrency Versi Terbaru Anjlok 20 Persen Kini di Tingal Investor
Terra Luna Cryptocurrency Versi Terbaru Anjlok 20 Persen Kini di Tinggal Investor 

terra luna cryptocurrency - Comunitynews - Versi baru mata uang kripto, Terra Luna, yang beberapa lalu terpukul sampai ditarik dari peredaran, sekarang telah kembali di bursa. Tetapi hari awal perdagangan asset kripto ini tidak menyenangkan.


Minggu kemarin, simpatisan project blockchain Terra memutuskan untuk hidupkan kembali Luna, tetapi tidak terraUSD. TerraUSD, atau UST, sebagai stablecoin algoritmik yang memercayakan code dan token saudaranya, Luna, untuk menjaga nilai US$ 1.


Saat harga asset kripto solid turun, investor larikan diri dari stablecoin. Hal itu membuat UST jatuh dan menggeret Luna dengannya.


Saat ini, Luna mempunyai iterasi baru yang oleh investor disebutkan Terra 2.0, begitu diambil dari CNBC Internasional, Selasa (31/5/2022).


Kripto itu telah diperjualbelikan di bursa terhitung Bybit, Kucoin dan Huobi. Binance, transisi crypto paling besar di dunia, menjelaskan akan mendaftar Luna awal hari ini.


Sesudah capai pucuk US$ 19,53 pada Sabtu (28/5), Luna turun sampai capai US$ 4,39 beberapa saat selanjutnya, berdasar data CoinMarketCap. Semenjak itu, harga masih tetap disekitaran US$ 5,90.


Riset benar-benar skeptis mengenai kesempatan kesuksesan blockchain Terra yang dihidupkan kembali. Dia harus berkompetisi dengan beberapa jaringan yang lain disebutkan "Susunan 1", yakni infrastruktur cryptocurrency seperti Ethereum, Solana, dan Cardano.


Terra membagikan token Luna lewat apa yang disebutkan "airdrop". Mayoritas akan dikasih ke mereka yang menggenggam Luna Classic dan UST saat sebelum roboh, sebagai usaha untuk mengkompensasi investor.


Tetapi, telah telanjur banyak investor yang tidak lagi yakin pada Terra sesudah musibah yang terjadi. Vijay Ayyar, Kepala Internasional di crypto exchange Luno, menjelaskan ada kehilangan keyakinan yang besar dalam project itu.


Jebloknya harga terra luna memunculkan gelombang surprise untuk pasar crypto. Kripto seperti bitcoin dan etherum turut merosot. Ini memunculkan kekuatiran untuk regulator.


"Setiap ada ketidakberhasilan atau musibah di kripto, ketakutannya selalu yaitu seorang akan salah membaca keadaan dan koreksi terlalu berlebih dalam status yang tidak menolong semua komune secara besar," kata Co-creator dari Tezos blockchain Kathleen Breitman.


"Walau saya suka menyaksikan beberapa hal yang tidak logis tidak berhasil, ada selalu suara seperti, 'Apakah orang akan memprediksi dari peristiwa ini jika segala hal yang disebut stablecoin kurang sehat?' Itu sering jadi ketakutan besar," lebih ia.


Walau sebenarnya, terraUST berlainan dengan tether. TerraUST tidak disokong oleh mata uang fiat yang diletakkan dalam cadangan.


TerraUST memercayakan beberapa eksperimen kompleks, yaitu kestabilan harga dipertahankan lewat perusakan dan pembuatan UST dan saudaranya yaitu terra luna.


Investor terpikat oleh janji hasil penghematan 20% dari Anchor, basis utang yang memberikan dukungan terra. Tetapi sekarang, harga terra luna dan terraUST jeblok.


"Walau kami sudah melihat erosi keyakinan investor, kami jangan buang semua stablecoin ke luar jendela," kata Kepala financial technology AS di Norton Rose Fulbright Stephen Aschettino.


"Demikian banyak beberapa perusahaan ingin turut serta dengan cryptocurrency, namun tetap cari langkah terbaik untuk mengarahkannya. Saya berpikir industri keseluruhannya akan menyongsong kepastian ketentuan yang semakin besar," lebih ia.


Akan tetapi, kecemasan atas terraUSD atau UST mengundang perhatian ke stablecoin yang lain, terutamanya tether.


Regulator dan ekonom sudah lama menanyakan apa tether mempunyai asset yang cukup dalam cadangannya untuk benarkan pasak yang di-claim stablecoin pada dolar Amerika Serikat (AS).


"USDT, cukuplah sederhana, disokong penuh oleh jaminan," kata Tether dalam pengakuan sah, Senin (23/5).


"Ini sudah menjaga pasaknya karena tiap USDT bisa ditukar dengan dolar lewat tether. Maka dari itu, setiap harga turun di bawah US$ 1, investor bisa mendapat keuntungan dengan beli USDT dengan potongan harga dan membayarnya dengan tether," lebih perusahaan.


Perusahaan awalnya mengeklaim jika tether disokong satu banding satu sama dolar di rekening bank. Selanjutnya, perusahaan mengatakan jika kripto ini memakai asset lain terhitung surat bernilai dan token digital sebagai agunan.


Tambahan asset sebagai agunan itu ditetapkan sesudah penuntasan perselisihan dengan Beskal Agung New York.


Minggu kemarin, Tether menjelaskan akan kurangi jumlah surat bernilai yang dipunyainya dan tingkatkan miliknya atas bill Treasury AS. Untuk pertamanya kali, perusahaan yang berbasiskan di Kepulauan Virgin Inggris ini menjelaskan menggenggam beberapa hutang pemerintahan asing.


Tether menampik memberi komentar selanjutnya mengenai sumber dananya, tapi menjelaskan melakukan audit yang lebih menyeluruh atas cadangannya.

Blog authors